Tampilkan postingan dengan label suku anak dalam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suku anak dalam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Mei 2018

Vidio Suku Anak Dalam

1.Kehidupan Orang Rimba


        Di tengah puluhan ribu pohon kelapa sawit ini terdapat sebuah sesudongan, rumah yang didirikan Suku Anak Dalam (SAD). Rumah ini dibangun menggunakan tiang dari batang kayu, beratap plastik, tanpa dinding, dan lantai dari belahan kayu yang disusun rapi. Luas sesudongan ini berkisar 2 x 4 meter.







2.Hikayat Orang Rimba

           Jauh di belantara hutan Jambi, hidup orang adat yang memilih menghindar dari hingar bingar gerak zaman, dan sepenuhnya hidup menyatu dengan rimba raya. Mereka menyebut diri sebagai orang rimba, penjaga benteng terakhir ruang hidup mereka di Bukit Duabelas, kabupaten Sarolangun. Jambi. Tercatat, dari sekitar 4000 orang rimba di Jambi, hampir separuhnya kehilangan hutannya. Perusakan dan perambahan hutan, hingga alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit memaksa orang rimba perlahan tersisih dari rumah tempat tinggal mereka. Tanpa rimba, mereka bukanlah orang rimba. Ribuan orang rimba kini hidup di bawah hijaunya sawit, tumbuhan yang tak berarti apapun bagi kepercayaan mereka.










3. Menjaga suku Anak Dalam

            Menurut tradisi lisan suku Anak Dalam merupakan orang Maalau Sesat, yang m lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo. Tradisi lain menyebutkan mereka berasal dari wilayah Pagaruyung, yang mengungsi ke Jambi. Ini diperkuat kenyataan adat suku Anak Dalam punya kesamaan bahasa dan adat dengan suku Minangkabau, seperti sistem kekeluargaan matrilineal.
   















Jurnal Suku Anak Dalam

1.         Masyarakat rimba  yang tinggal dan hidup dalam hutan di daerah Jambi terdiri dari kelompok-kelompok yang tersebar di kawasan hutan bukit dua belas. Masing masing kelompok ini dipimpin oleh seorang Temenggung (kepala rombong atau kepala kelompok). Ada sekitar 11 temenggung dan jumlah poluasi sekitar 1300 orang.  Dalam satu rombong ketemenggungan ada beberapa rombong yang terdiri dari beberapa keluarga (Bubung). Filosofi hidup mereka pun bersumber pada kehidupan hutan. Orang Rimba ada yang hidup berpindah-pindah didalam hutan, ada yang bermukim permanen didalam hutan dan ada juga yang telah bermukim di kawasan dekat dengan pemukiman penduduk biasa Kehidupan yang unik dan eksotik merupakan sebab kepopuleran mereka. Ditengah derap dunia yang melaju cepat, 
                mereka masih saja terkungkung dalam kehidupan seperti yang dilaksanakan nenek moyang mereka ratusan atau bahkan ribuan tahun yang silam. Mereka berkeyakinan bahwa merubah alam adalah pembangkangan terhadap kehendak Tuhan dan merupakan pelanggaran adat.  Tuhan adalah sang penguasa alam dan manusia merupakan makhluk yang bergantung kepada alam. Oleh sebab itu, suku rimba ini dianggap bodoh, miskin, primitive, dan stereotip-stereotip negatif lainnya. Bahkan, di kalangan penduduk Jambi sendiri, kata “Kubu” selalu distereotipkan kepada komunitas yang dianggap terpinggirkan, bodoh, bau, primitif, (tidak modern). Karena “kebodohan” itu, komunitas Orang Rimba seringkali menjadi korban penipuan oleh pendatang-pendatang asing yang menganggap dirinya, pintar, modern. Tetapi sebenarnya




2.       Di Sumatera terdapat sejumlah suku-suku besar yang mempunyai ciri khas tradisional. Suku yang terkenal aantara lain Aceh, Batak, Minangkabau, dan Melayu. Selain itu terdapat pula beberapa suku minoritas yang mendiami beberapa daerah di Sumatera, terutama di daerah hutan luas, di antara sungai-sungai besar, di sekitar rawa-rawa, maupun di pulau-pulau lepas pantai. Salah satu suku minoritas tersebut adalah suku anak dalam (SAD) atau biasa juga disebut sebagai Orang Rimba. Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Mereka mayoritas hidup di propinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 3.198  orang.1 Suku Anak Dalam (SAD) yang di dalam tulisan ini lebih sering menggunakan sebutan Orang Rimba memiliki gaya hidup dan kepercayaan yang unik dan berbeda dari kehidupan masyarakat modern. Mereka 




3.      Masyarakat rimba  yang tinggal dan hidup dalam hutan di daerah Jambi terdiri dari kelompok-kelompok yang tersebar di kawasan hutan bukit dua belas. Masing masing kelompok ini dipimpin oleh seorang Temenggung (kepala rombong atau kepala kelompok). Ada sekitar 11 temenggung dan jumlah poluasi sekitar 1300 orang.  Dalam satu rombong ketemenggungan ada beberapa rombong yang terdiri dari beberapa keluarga (Bubung). Filosofi hidup mereka pun bersumber pada kehidupan hutan. Orang Rimba ada yang hidup berpindah-pindah didalam hutan, ada yang bermukim permanen didalam hutan dan ada juga yang telah bermukim di kawasan dekat dengan pemukiman penduduk biasa Kehidupan yang unik dan eksotik merupakan sebab kepopuleran mereka. Ditengah derap dunia yang melaju cepat, mereka masih saja terkungkung dalam kehidupan seperti yang dilaksanakan nenek moyang mereka ratusan atau bahkan ribuan tahun yang silam. Mereka berkeyakinan bahwa merubah alam adalah pembangkangan terhadap kehendak Tuhan dan merupakan pelanggaran adat.  Tuhan adalah sang penguasa alam dan manusia merupakan makhluk yang bergantung kepada alam. Oleh sebab itu, suku rimba ini dianggap bodoh, miskin, primitive, dan stereotip-stereotip negatif lainnya